Rabu, 04 September 2013

Saat Hati Melawan Agama

Setiap waktu agama selalu hal yang sulit diungkap, sulit dicerna dengan akal yang sehat. Terlihat ajaran yang terlalu memaksa. Ajaran dengan tujuan mencapai kebaikan, tapi dilakukan dengan pedang dan darah. Dan sesuatu yang selalu terdengar sinisme dan ajaran itu jalannya selalu statis. Tidak bisa mengikuti jaman dan tempat!! Agama selalu mengatakan bahwa dirinya harus diimani, bukan dipikirkan dengan nalar sang manusia yang beragama itu. Karena katanya, kau akan menemukan kegalauan dan bahkan kesesatan jika memikirkannya.

Aneh bukan? Bukannya kita beragama karena kita berfikir dan akhirnya diimani dengan hati, tapi apa jadinya saat kita tidak boleh memikirkan agama? Tapi itulah ajaran agama, selalu menentang akal pikiran dan kau pun harus percaya bahkan dipaksa untuk percaya.
Ajaran agama turun bertujuan mengatur seluruh umat manusia, dan tidak terkecuali (tapi anehnya hanya turun diberbagai tempat). Ajaran agama mengajarkan penyembahan terhadap sesuatu (biasanya batu, patung atau bahkan sesuatu yang gaib pun harus kau sembah). Ajaran agama selalu mengajarkan manusia untuk tidak berbuat keji terhadap sesama (tetapi ajaran agama sering kali berbicara pedang kalau ada mereka yang tak sepaham).

Hati ini jadi merasa bertanya. Apakah benar? ajaran agama itu bisa mengatur kita menjadi lebih baik. Wah Hati? Kata-kata hati? Karena kata-kata hati kita bisa merasakan. Ajaran agama itu ada yang baik, dan juga ada yang buruk. Atau bahkan hati kita akan merasakan itu menjadi keji. Setiap kata-kata dalam hati itu adalah sebuah kebenaran yang hakiki. Walau kau sang pembunuh, walau kau sang psikopat, walau kau sang pendosa besar, walau kau durhaka pada orang tua mu, walau kau sang ahli neraka, walau kau manusia yang menyerupai iblis sekalipun, maka jawaban dari perbuatan kalian adalah hati. Karena sekejam-kejamnya perbuatanmu, hati akan selalu berbicara seni kemanusiaan. Dan akan merasakan penyesalan, walau itu secuil.

Selasa, 03 September 2013

Faktor-faktor Pembatas Kebebasan Manusia

Kebebasan.

Begitu pentingnya kata ini bagi seorang manusia yang berpikir. Kata yang telah menginspirasi sekian banyak generasi dalam lembaran-lembaran sejarah kehidupan manusia di dunia ini, kata yang sangat signifikan dalam membentuk wajah dunia ini.

Kata yang telah membawa manusia pada tingkat kemanusiaan yang tertinggi hingga ke yang terendah.

Manusia terlahir dipenuhi dengan berbagai keterbatasan.

Dibatasi oleh jenis kelamin, tubuh beserta kebutuhan-kebutuhannya, lingkungan sosial dengan tatanannya, pembisik-pembisik hati, ruang, waktu dan hidup itu sendiri.

Dunia ini adalah penjara bagi seorang manusia.

Nilai kebebasan yang diperoleh dalam bentuk kesenangan, kenyamanan dan kebahagiaan, berbanding lurus dengan sejauh mana diri bisa berdamai dengan faktor-faktor pembatas itu !

\m/ Keep Rock !! \m/



Asal Senang, Maka Bahagia

Menurut saya definisi bahagia itu adalah kita bisa tetap senang saja entah sebesar apapun masalah yang kita hadapi. Untuk versi simplenya, lihatlah orang gila. Nah, begitulah kawan.

“kalau orang gila yang nangis terus? Kan ada tuh!”, bantah teman saya. Entahlah, siapa tahu benar-benar ada, karena saya kurang wawasan tentang jenis-jenis orang gila. Ah, itu juga sama. Orang gila itu tentu menikmati tangisannya, karena dengan menangis dia bisa melarikan diri dari kenyataan. Bagaimana bisa? Dengan menjadi sibuk, dia jadi bisa menjadi “tidak sempat” menghadapi kenyataan pada hidupnya kan.. Sibuk apa? Sibuk menangis tentu saja. Dia senang dengan acara menguras air mata tersebut! Itulah kenyataannya kawan.

Maka tahulah kita kenapa para gadis yang patah hati itu banyak yang menangis melulu kerjanya, mereka tentu saja melarikan diri dari kenyataan bahwa mereka sudah kehilangan orang yang dicintainya. Dan mereka lebih menikmati pelarian itu daripada kenyataan yang ada. Ada juga yang sibuk makan saat patah hati, nah yang ini lebih celaka lagi. Mereka makan untuk melarikan diri dari kenyataan mereka kehilangan, lalu saat mereka sudah sadar dan siap untuk menghadapi kenyataan, mereka sudah gendut..lalu mereka mencoba melarikan diri dari kenyataan bahwa mereka gendut, dengan sibuk makan, dan kita bisa lihat mereka menjadi lebih gendut lagi. Begitu berulang ulang, sampai menyedihkan.

Tapi tidak semua orang gendut karena patah hati, tentu saja. Itu hanya contoh. Banyak juga orang gendut karena rakus saja. Memang sama-sama tidak terhormat, tapi setidaknya..lihatlah, itu lebih sedikit kadar menyedihkannya daripada orang yang gendut karena patah hati. Begitulah kawan, cukuplah sudah mengenai orang gendut.
Lalu akhir-akhir ini saya mendengarkan kabar dari kawan saya, seorang supervisor apotik di jakarta yang baru saja berulang tahun tanggal 30 Agustus kemarin. Bahkan di hari ulang tahunnya, dia tetap merana. Saat saya bertanya, “ulang tahun kok sedih sih bray..kenapa? meratapi mukamu lagi?”. Dia marah. Katanya, “ngga, aku lagi banyak masalah. Rasanya jadi pengen marah-marah! Jadi ngga bahagia! ”.