Minggu, 27 April 2014

Diam . . . .

Bukan karena sudah tidak sayang rasa marah ini membuncah
Bukan karena sudah tidak perduli rasa kesal terlampiaskan
Bukan karena saling membenci keluar kata - kata yang tidak diinginkan
Bukan karena sudah tak cinta ku biarkan kau sendiri

Aku diam bukan berarti tidak perduli lagi dengan apa yang terjadi
Aku diam dan membiarkan kau menentukan sendiri apa yang kau mau
Aku diam karena hal itu yang terbaik aku lakukan untukmu
Aku berusaha merendahkan hati dan suara saat berhadapan denganmu
Aku berusaha menahan rasa amarahku
Aku hanya tak ingin kau sakit hati
Begitu mulianya dirimu untukku
Begitu berartinya dirimu dalam hidupku
Dan hanya Tuhan yang tau semua itu
Aku biarkan kau sendiri menentukan apa yang menurutmu baik dalam hidup ini
Aku biarkan kau berjalan melalui fase fase hidupmu
Aku biarkan semua berjalan sesuai kehendak-NYA
Aku pasrahkan semuanya
Karena aku sudah tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan
Bukankan tidak semua pertanyaan ada jawabanya ?
Bukankan tidak semua keinginan kita dapat terpenuhi ?
TERSERAH dan hanya itu kata yang dapat aku ucapkan saat ini

Tuhan, semoga kami menjadi makhluk yang lebih memilih diam-diam melakukan hal yang baik yang berguna bagi sesama. Semoga kami juga tidak melewatkan waktu sehari pun untuk diam dalam diam berintrospeksi diri. Diam dalam diam untuk semakin mengenal diri yang sejati, sehingga bangkit kesadaran kami untuk hidup menjadi berarti.

Hanya dengan diam kita bisa bebas berteriak !
Hanya dengan diam kita bisa bebas merenung !
\m/ Keep Rock !! \m/




Jumat, 31 Januari 2014

Bra :-)


(1)
Seperti bermain cinta diantara ketinggian ingin
Bra itu kugantung tinggi pada batasan angan
Melayang jauh dalam fikiran bersayap khayal
Lalu hinggap menghangatkan dinginnya malam

(2)
Bra, bukan karena warnamu itu nan memesona
Bukan pula pada modelmu yang amat disuka
Tidak juga tentang ukuranmu yang beraneka
Tapi pada sesuatu yang akan berdenyut di sana

(3)
Bermain ingin dengan beragam angan tentangmu
Seperti melayang jatuh di kerimbunan harap
Kamu membuat guratan indah di liarnya hasrat
Hingga semua khayalan tentangmu sesak terkulai


\m/ Keep Rock !! \m/

#imajinasi_ngawur

Kamis, 17 Oktober 2013

Kami Jodoh, Tapi Bukan Untuk Bersama

Kami pernah bersama. Benar-benar bersama. Setiap hari yang kami lakukan hanya berbagi cerita, saling bertanya kabar satu sama lainnya. Saling merindukan, saling mendoakan. Kami pasangan yang serasi. Kata dia begitu. Entah kenapa aku kurang setuju. Kami bukan pasangan, tapi sudah menjadi satu bagian dari kebersamaan itu sendiri. Jadi, aku anggap bahwa ketika dia tak bersamaku berarti dia tak lengkap. Begitu juga sebaliknya. Tanpa aku, dia tak sempurna.

Aku sudah terbiasa dengan kehadirannya. Dengan berbagai sapa cinta setiap pagi. Berbagai macam ucapan doa dan harap setiap hari. Aku dan dia benar-benar seperti sudah ketergantungan. Dia membuatku lebih dari spesial. Dia pernah bilang bahwa dia selalu mendambakan sosok ‘Pangeran’. Ya, Pangeran. Seseorang yang membuatnya jauh lebih bernyawa dari sebelumnya dia sebut Pangeran. Seseorang yang akan dia cintai sampai lebih lama dari selamanya dia sebut Pangeran. Seseorang yang akan dia buat selalu bahagia dia sebut Pangeran. Pangeran itu aku, katanya.

Kami pun membuat dongeng kami sendiri. Dia yang jadi Puteri Bergaun Putih Panjang Dengan Sayap di kiri-kanan, aku yang jadi Pangeran Ksatria Berkuda Putih. Mungkin sebagian orang akan mual. Tapi jika mereka sudah tahu seperti apa hubungan yang kami jalani, aku berani bertaruh mereka justru akan iri. Aku merasa menjadi pria paling sempurna dan beruntung di dunia saat memilikinya. Dia, wanitaku yang selalu cantik dan anggun meski memakai pakaian apa saja. Wanitaku yang tak pernah membuatku marah. Wanitaku yang selalu menggodaku dengan candaan dan kekonyolannya. Yah, dia pernah melakukan semua itu.

Dongeng kami selalu berisi tentang kebahagiaan. Sialnya, kami tidak pernah mempersiapkan kemungkinan terpahit tentang sebuah perpisahan. Aku sebenarnya sudah tahu sejak awal. Aku dan dia… kami tak mungkin bisa memperjuangkannya. Kami jatuh cinta, saling menginginkan, pernah berciuman tanpa ragu, pernah bermimpi tentang indahnya membangun sebuah keluarga, tapi… kami tak akan bisa kesana.